• 25 Jul 2025 06:48
  • Admin
  • 3.2k Comments
  • 1.4k Like

Masuk Program Prioritas, Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Game Changer Pendidikan Indonesia

thumb

Makassar (Kemenag) — Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai salah satu dari delapan program prioritas nasional tahun 2025. Peluncuran resminya yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis malam (24/7/2025), menandai perubahan mendalam dalam wajah pendidikan Islam di Indonesia—dari yang semata berorientasi kognitif menjadi pendidikan yang menyentuh dimensi afektif, spiritual, dan ekologis.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyebut KBC sebagai kontribusi strategis Kementerian Agama dalam menyongsong ndonesia Emas 2045, dengan fokus pada pembangunan karakter dan spiritualitas yang kuat sebagai fondasi masa depan bangsa.> “Kurikulum ini adalah sumbangan kita untuk Indonesia yang unggul, tidak hanya dalam teknologi dan ekonomi, tetapi juga dalam moralitas, integritas, dan kohesi sosial,” tegas Menteri Agama.

Lebih dari sekadar perangkat ajar, KBC hadir sebagai filosofi pendidikan yang membumi dan membahagiakan, yang membentuk manusia utuh—yang mampu berpikir dengan cinta, merasa dengan empati, dan bertindak dengan kasih sayang.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa KBC bukanlah produk instan atau sekadar wacana. Kurikulum ini disusun dengan pendekatan ilmiah, partisipatif, dan berbasis pengalaman nyata para pendidik. Prosesnya dimulai sejak Desember 2024 oleh Direktorat KSKK Madrasah dan melalui lima kali uji publik yang melibatkan guru, kepala madrasah, pengawas, akademisi, dan pakar pendidikan nasional.

“Kita tidak sedang menambahkan mata pelajaran baru, tapi menambahkan nilai baru dalam pendidikan: cinta. Kami yakin, KBC akan menjadi pengubah arah (game changer) pendidikan nasional. Bukan dengan memaksakan pengetahuan, tapi dengan menumbuhkan kesadaran,” jelas Amien.

Sebanyak 12 madrasah dari berbagai jenjang pendidikan telah ditunjuk sebagai lokasi uji coba KBC. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada suasana belajar yang lebih damai, inklusif, dan menyenangkan. Murid merasa lebih aman, guru lebih terlibat secara emosional, dan komunitas sekolah menjadi lebih hangat.

KBC dibangun di atas lima nilai fundamental yang disebut Panca Cinta, yaitu:

1. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta kepada Diri dan Sesama

3. Cinta kepada Ilmu Pengetahuan

4. Cinta kepada Lingkungan

5. Cinta kepada Bangsa dan Negeri

Kelima nilai ini menjadi fondasi yang tidak hanya mengarahkan kurikulum, tetapi juga membentuk ekosistem pembelajaran yang utuh dan saling terhubung—baik di madrasah, rumah, maupun masyarakat. “Kurikulum ini bukan hanya milik madrasah, tetapi milik seluruh bangsa. Ia hadir sebagai ruh yang menghidupkan pendidikan kita agar lebih manusiawi dan bermakna,” tambah Amien.

Untuk memastikan implementasi KBC berjalan efektif dan merata, Kementerian Agama telah menyiapkan strategi pendampingan melalui:

  • Pelatihan berjenjang secara luring dan daring melalui platform MOOC PINTAR

  • Training of Trainers (ToT) bagi calon pelatih daerah

  • Sistem pemantauan dan penguatan melalui teknologi digital (MAGIS)

Kemenag juga membangun sinergi antar unit eselon di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam seperti GTK, PAI, Pusbangkom, serta menggandeng mitra eksternal seperti INOVASI. Semua pihak digerakkan untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang menyalakan lentera cinta di setiap ruang kelas.

KBC tidak hanya membidik kecerdasan akademik, tetapi juga ingin melahirkan generasi yang sadar akan lingkungan, inklusif dalam pergaulan, kuat dalam spiritualitas, dan tangguh dalam menghadapi kompleksitas masa depan.

“Melalui KBC, kita ingin mencetak generasi yang berpikir dengan cinta, merasa dengan cinta, dan bertindak dengan cinta. Pendidikan yang bukan hanya mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang utuh,” pungkas Prof. Amien.

Dengan ditetapkannya KBC sebagai program prioritas nasional, Kementerian Agama menegaskan arah baru pendidikan Islam yang berakar pada nilai, bergerak bersama zaman, dan berpijak pada cinta sebagai energi transformasi.


Author

Agnes F. Natale

It is a long established fact that a reader will be distracted by the abcd readable content of a page when looking at its layout that more less.

Comments (20)

thumb
Kecia A. Parada
June 18, 2024

There are many variations of passages the majority have suffered in some injected humour or randomised words which don't look even slightly believable.

Reply
thumb
Thomas A. Lindsey
June 18, 2024

There are many variations of passages the majority have suffered in some injected humour or randomised words which don't look even slightly believable.

Reply
thumb
Mary R. Lujan
June 18, 2024

There are many variations of passages the majority have suffered in some injected humour or randomised words which don't look even slightly believable.

Reply

Leave A Comment